1. Terapi Asma Bronkiale dengan tahitian noni

Asmabronkiale

Asmabronkiale adalah penyakit saluran napas berupa konfriksi bronkiolus akibat inflamasi kronik yang betsifat reversibel yang di sebabkan oleh hipersensitivitas bronkiolus.

1. Gejala : sesak napad —>> mengiikk.

2. Penyebab : Genetik ,Alergi, Stress, dan infeksi.

Terapi tahitian noni iriginal atau maxidoid

1. Inhibisi enzim Cox -2 ,5 -Lox dan 15 – Lix —> atasi inflamasi saluran napad—> atasi sesak.

2. Inhibisis Enzim Pasfordiestetase : PDE . akan meningkatkan c.AMP —> mengontrol pelepasan lgE dan sekresi histamin menjadi normal.

3. Regulasi iNOS ( NO sintase teriduksi) —> aktivasi enzim NO sintase —> produksi NO —> vasodilatasi bronkus —> sessk reda.

 

Asma (dalam bahasa Yunani ἅσθμα, ásthma, “terengah”) merupakan peradangan kronis yang umum terjadi pada saluran napas yang ditandai dengan gejala yang bervariasi dan berulang, penyumbatan saluran napas yang bersifat reversibel, dan spasme bronkus.[2] Gejala umum meliputi mengi, batuk, dada terasa berat, dan sesak napas.[3]

Asma pada awalnya diperkirakan disebabkan oleh kombinasi faktor genetika dan lingkungan.[4] Diagnosis biasanya didasarkan atas pola gejala, respons terhadap terapi pada kurun waktu tertentu, dan spirometri.[5] Asma diklasifikasikan secara klinis berdasarkan seberapa sering gejala muncul, volume ekspirasi paksa dalam satu detik (FEV1), dan puncak laju aliran ekspirasi.[6] Asma dapat pula diklasifikasikan sebagai atopik (ekstrinsik) atau non-atopik (intrinsik)[7] dimana atopi dikaitkan dengan predisposisi perkembangan reaksi hipersensitivitas tipe 1.[8]

Terapi untuk gejala akut biasanya dengan menghirup beta-2 agonist reaksi cepat (misalnya salbutamol) dan kortikosteroid oral.[9] Pada kasus yang sangat parah mungkin diperlukan pemberian kortikosteroid intravena, magnesium sulfat dan perawatan di rumah sakit.[10] Gejala ini dapat dicegah dengan menghindari pencetusnya, seperti misalnya alergen[11] dan iritan, dan dengan penggunaan kortikosteroid hirup.[12] Beta agonist reaksi lambat (LABA) atau leukotrien antagonis dapat ditambahkan, selain pemberian kortikosteroid hirup bila gejala asma tidak dapat dikontrol.[13] Prevalensi asma mengalami peningkatan secara signifikan sejak tahun 1970an. Pada tahun 2011, 235–300 juta orang terserang asma secara global,[14][15] termasuk adanya 250.000 kematian